My Story : Feelings and Surprises Vol.01

 Vol.01



Aku berdiri di depan sebuah gedung dengan sebuah kenangan yang masih teringat di fikiranku. Entah apa tapi yang ada hanya suara yang terngiang ngiang di telingaku. Tiba tiba seseorang menepuk bahuku, "Ramida, ayo biar ummi antar ya?" "Oh, iya ummi" aku hanya mengangguk. Berjalan di koridor di sekolah ini seolah mengingatkanku pada sesuatu yang aku sendiri tak tahu apa itu.

Lalu terpampang di hadapanku papan bertuliskan 6c Abu Hurairah, Ummiku membuka pintu ruang tersebut dan menyerahkan tasku. Seluruh pandangan menuju kearahku dan aku memiliki firasat aneh tentang itu. Ummiku mengucap salam kemudian membisikkan sesuatu kepada Ustadzah yang mengawas di sana, lalu Ustadzah yang terlihat masih muda itu mempersilahkanku untuk berkenalan di depan kelas. "Assalamu'alaikum, ismi Ramida Jiranorraphat, kalian bisa memanggil ana Ramida atau Rara untuk anti yang berasal dari Indonesia. Ana adalah Warga Negara Thailand dan abi mengajak ana ke sini karena lingkungan yang lebih khayr. Ana lahir di Bangkhok, 15 Agustus 2011. Ana adalah anak kedua dari three siblings, kakak ana Ployshompoo Supasap, ana, Ramida Jiranorraphat, dan adik ana Apichaya Saejung" perkenalanku saat itu campur campur dengan bahasa Arab dan Inggris. Ummiku tersenyum dan sekali lagi membisikkan sesuatu kepada Ustadzah yang mengawas ruang tersebut, dan Ustadzah tersebut ikut tersenyum karena sesuatu yang dibisikkan oleh Ummi.

"Masya Allah, jadi Ramida ini datang dari Thailand dan mau sendiri sekolah di sini?" tanya Ustadzah "Iya Ustadzah, ana datang dari Thailand" "Ramida, Ustadzah panggil Rara ya? Rara panggil Ustadzah, Ustadzah Shaliha saja, nanti, Rara kenalan sama teman teman ya" "Iya Ustadzah" "Rara duduk di sampingnya Nadhine ya, barisan ke 4 dari depan bagian kanan" "Iya Ustadzah" "Rara, ini kunci loker, loker ke 7 yang tulisannya '07' ya" Aku mengambil kunci dari tangan Ustadzah dn mulai berjalan ke belakang kelas, aku membuka loker ke 7 dengan kunci yang sudah diberikan oleh Ustadzah Shaliha dan menaruh tas dengan perlahan. Setelah mengunci kembali loker tersebut, aku berjalan ke kursi di samping anak perempuan bercadar yang katanya namanya Nadhine Cecyllyia Saqeena. "Assalamu'alaikum, ana boleh khan duduk di samping anti?" "Ay? Tafaddhaliy, Rara, Tafaddhaliy!" jawabnya sambil menggeser sedikit kursinya. Aku tersenyum simpul dan duduk dengan perlahan di sampingnya.

KRIIIIIIIINGG
Bel istirahat pertama berbunyi nyaring sekali, anak anak berhamburan keluar dari kelas. Cepat tapi pasti, sudah jelas, jika sekolah itu mengajarkan kedisiplinan tingkat tinggi kepada para muridnya. Saat istirahat, aku hanya duduk di taman menikmati kesendirian dan tiupan angin. Anak perempuan berca...

'hei! anti khan sudah bilang kalau Nadhine bercadar dari awal cerita, usahlah diulang ulang kembali!'
-maaf, author sengaja ngegrechokKiEn

Nadhine izin kepadaku untuk duduk di sampingku "Assalamu'alaikum, boleh tak ana sit here? eh, maksudnya duduk di sini?" "Oh, boleh, boleh, tafaddhaliy!" Aku mempersilahkannya duduk di sampingku. "Syukran" "Afwan" lalu dia memakan makanannya dengan perlahan. "Rara, anti datang dari Thailand ya?' "Eh? i- iya, Nadhine?" "Iya, nama ana Nadhine (Nadin), lengkapnya Nadhine Cecyllyia Saqeena" "Oooo, jadi ana panggil anti Nadhine saja ya? tapi ana kalau mau panggil anti Saqeena boleh tak?" "Iya boleh, sebenarnya ana juga mau panggil anti Maryda" "Wah, boleh itu, ana suka sekali nama nama islami semacam itu" "Jadi sepakat ya? ana panggil anti Maryda, anti panggil ana Saqeena" "Oke siap" siang itu hanyalah perbincangan pendek dan singkat.







Author boleh khomen ga?
MOHON MAAF KLO ADA TYPHO, KRNA YANG NULIS JUGA MASIH BELAJAR. Author juga minta maaf klo yg lagi baca ada yang merasa tersinggung mungkhin namanya keshebuth atau gimanaa gitu?
Typho masih bertebaran di mana mana, maklum yg nulis anak SD

Vomment jusseyo~
_nadiyashalihaa, on Saturday 12 Nov 2022

댓글

댓글 쓰기