Premium Story : Story. Cerita tentang keajaiban mimpimu

Cp.01 : 00:00


Ketika jam tepat di angka 12, percayalah bahwa hal ajaib akan terjadi.


Hari beranjak sore, waktu untuk pulang dari tempat kerjaku yang membosankan, ah, rasanya ingin tidur seharian. Tapi mau bagaimana lagi? Setiap hari aku harus pergi ke café tempatku bekerja dan pulang saat hari sudah menjelang malam, dan yang membosankan adalah ketika aku harus mengulang rutinitas yang sama setiap hari. Sudahlah, lagi pula toh aku akan tidur di apartemen nanti. Kereta yang biasanya kutumpangi berhenti di depanku, lalu, pintunya terbuka dan penumpang lainnya mengisyaratkan aku untuk segara naik. Aku melihatnya dan buru buru naik ke kereta, lalu, aku merapikan poniku dan menghela napas. Akankah rasa bosan ini hilang? Ataukah mungkin akan ada kejutan setibanya aku di apartemen nanti? Aku membenarkan posisi dudukku dan mulai tertidur.
.
.
.
Sesampainya di apartemen, kuambil kartu kunci ruang apartemenku dan pintu gesernya terbuka. Lampu menyala otomatis dan aku menjatuhkan tas gendongku sambil menghela napas. Aku segera mengambil handuk dan mulai membersihkan diri. Sesudahnya, aku berbaring, jam digitalku menunjukkan waktu sudah hampir jam dua belas. Air mataku menetes, aku sangat lelah dan kecewa, tadi di café, para pelanggan menertawaiku karena aku memainkan piano milik temanku, dan alunan suara piano yang kumainkan tidak sebagus yang kukira. Saat aku sibuk untuk memikirkan kesedihanku, cahaya berwarna ungu bersinar di sisi lain kamarku. Sebuah pintu ajaib mengeluarkan tujuh manusia kecil, bukan mengeluarkan tapi menjatuhkan. Aku begegas bangun dan mengusap air mataku. Saat aku berusaha untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi, satu dari tujuh manusia kecil itu menembakkan piksel berbentuk hati ke arahku. Piksel itu menuju ke gambar paus kecil berwarna lilac di piyamaku. Paus itu tiba tiba terealisasi karena piksel hati berwarna pink yang ditembakkan manusia kecil itu. Sesudahnya, paus itu mengitari kamarku dan membuat kursi kerjaku berputar, ia menuju ke belakang televisi dan menembusnya. Seekor paus besar berwarna lilac keluar dari televisiku dan menuju ke arahku, aku menutupi tubuhku dengan tanganku. Jam tepat di angka dua belas malam.
.
.
.
Saat aku membuka mataku, aku tak sepenuhnya percaya, apakah ini mimpi ataukah ini adalah kenyataan. Kini aku ada di punggung paus besar yang tadi kukira hendak menabrakku. Aku melihat ke bawah, paus ini melayang. Paus ini melayang? Ya, tepatnya dia melayang di antara gelapnya langit malam, mengantarku entah ke mana. Dan di bawah sana aku bisa melihat dengan jelas bahwa kota kini bersinar terang, ramai, dan tidak sesunyi yang kukira. Salah satu manusia kecil melambaikan tangannya ke arahku dan menaiki bahuku, disusul dengan lainnya. Lalu ia mengomandokan paus untuk melayang lebih tinggi. Paus itu mengelilingi sebuah gedung tinggi di antara kota. Dan akhirnya menembus awan dan melontarkan tubuhku bak peluru, kini aku akan jatuh, tapi para manusia kecil terbang dan melayang layang mengitari sekitarku untuk mencegahku jatuh. Satu diantara mereka meniupkan serbuk berwarna ungu dan seketika aku berubah menjadi seorang yang memakai gaun berwarna ungu pula. Aku didudukkan di atas bangku dan sebuah piano mendekatiku. Tanpa kusadari salah seorang manusia kecil memasukkan satu bintang ke lubang bernapas paus besar itu. Dan yang satunya menganggukkan kepala di samping mata paus itu. Paus itu melontarkan bintang dan menjadikan bintang itu meletus bak kembang api. Bintang bintang kecil ada di sekelilingku dan menyinari langit diantara awan itu. Aku menghela napas dan mulai memainkan piano, para manusia kecil mengangguk anggukkan kepala mereka, menikmati alunan suara piano yang kumainkan. Paus besar melayang diatasku dan melengkungkan tubuhnya. Itu mimpiku. Dan aku terlelap dalam duniaku sendiri, paus dan harapan, semuanya ada di sana, di alam mimpi.
.
.
.
Jangan menyerah demi mimpimu. Dan raihlah mimpimu setinggi langit.


댓글

댓글 쓰기